Novel Batu Berkaki Warisan Terakhir Chandra Bientang Sebelum Berpulang

Novel Batu Berkaki Warisan Terakhir Chandra Bientang Sebelum Berpulang

Novel Batu Berkaki Warisan Terakhir Chandra Bientang Sebelum Berpulang

Batu Berkaki menjadi novel terakhir yang diterbitkan oleh penulis berbakat Chandra Bientang. Karya ini resmi diluncurkan pada pertengahan tahun 2024, dan kini tercatat sebagai penutup dari jejak literasi Chandra yang mengesankan. Setelah meraih sukses dengan novel-novel sebelumnya seperti Dua Dini Hari dan Sang Peramal, Batu Berkaki muncul sebagai penanda akhir perjalanan kreatif sang penulis yang berpulang pada awal tahun 2025.

Novel Batu Berkaki Warisan Terakhir Chandra Bientang Sebelum Berpulang
Novel Batu Berkaki Warisan Terakhir Chandra Bientang Sebelum Berpulang

Novel Batu Berkaki Warisan Terakhir Chandra Bientang Sebelum Berpulang

Pada Desember 2024, Chandra sempat menyambangi kantor redaksi detikcom. Dalam kunjungan tersebut, ia berbincang santai dengan awak redaksi yang tergabung dalam komunitas pembaca detikcom bookclub. Pertemuan tersebut menjadi kenangan terakhir redaksi bersama Chandra. Ia sempat membicarakan proses kreatifnya, inspirasi di balik Batu Berkaki, serta rencananya untuk beristirahat dari dunia tulis-menulis setelah peluncuran novel tersebut.

Reaksi Noura Publishing atas Kepergian Sang Penulis

Kabar duka atas meninggalnya Chandra Bientang membawa kesedihan mendalam bagi para pelaku industri penerbitan, termasuk Suhindrati Shinta, CEO Noura Publishing. Ia mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian penulis yang telah menjadi bagian penting dari katalog penerbitan mereka.

“Ketika bertemu di acara Bincang-Bincang Batu Berkaki di Kongsi 8 Minggu 16 Maret lalu, beliau menyatakan akan istirahat dulu, bahwa Batu Berkaki adalah buku terakhir, setidaknya tahun ini,” ujar Shinta pada Selasa, 23 Maret 2025. Ia menambahkan, “Beliau penulis yang cerdas, tekun, sekaligus sangat rendah hati. Semoga inspirasi dari karya yang pernah ditulisnya akan abadi di hati pembacanya.”

Asal Usul Judul Batu Berkaki yang Unik dan Simbolis

Dalam wawancara dengan kanal detikpop, Chandra mengungkapkan asal-usul dari judul Batu Berkaki. Menurutnya, frasa tersebut terinspirasi dari katalog pameran seni patung di Bentara Budaya Yogyakarta. “Ada laporan pameran dari patung-patung batu semuanya. Dari situ, aku berpikir aneh ya kalau ada kakinya. Frasa ‘batu berkaki’ memang inspirasinya dari pameran patung,” ujarnya pada Kamis, 19 Desember 2024.

Judul ini memancing rasa penasaran sekaligus menyimpan makna mendalam yang sesuai dengan atmosfer cerita yang diangkat dalam novel. Gaya simbolis dan puitis yang disematkan lewat judul ini merupakan ciri khas dari gaya naratif Chandra Bientang yang konsisten sejak karya-karya sebelumnya.

Baca juga:Penulis Chandra Bientang Berpulang, Baca Lagi 3 Novelnya

Setia dengan Genre Urban Thriller dan Unsur Mistis

Chandra mengaku tetap menulis dalam gaya yang konsisten—genre urban thriller dengan nuansa misteri yang kuat. Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan bahwa kisah tentang pembunuhan terasa lebih menggugah dan sesuai dengan minat pribadinya. “Lagi-lagi soal pembunuhan? Lebih ngena aja sih menurutku, ketimbang pencurian. Lebih ke action dan sesuai dengan mood aku sih sebenarnya. Tipe misteri yang aku suka dari genre thriller,” ungkapnya.

Dalam Batu Berkaki, pembaca kembali disuguhi narasi penuh ketegangan yang diracik dengan kecermatan. Ia menggabungkan dinamika sosial pedesaan dengan atmosfer gelap, penuh teka-teki, serta elemen mistis yang samar namun terasa nyata.

Kisah Pembunuhan di Desa Fiktif Ledok Awu

Cerita dalam novel ini berpusat pada peristiwa pembunuhan Munarto, seorang pematung ternama sekaligus orang terkaya di Desa Ledok Awu. Desa ini merupakan tempat fiktif yang terletak di kaki Gunung Merbabu. Latar tersebut memberikan suasana misterius dan menegangkan, khas dari gaya bercerita Chandra yang menyukai latar lokal yang kuat namun penuh enigma.

Kematian Munarto tidak hanya menggemparkan warga desa, tetapi juga membuka tabir tentang rahasia-rahasia lama yang telah lama terkubur. Narasi berkembang secara perlahan namun pasti, memperkenalkan pembaca pada berbagai karakter dengan motif yang mencurigakan, serta kejadian-kejadian aneh yang terjadi setelah kematian Munarto.

Detail, Simbol, dan Ketegangan dalam Setiap Adegan

Salah satu kekuatan Chandra Bientang sebagai penulis adalah kemampuannya meracik detail-detail kecil menjadi bagian dari misteri besar. Dalam Batu Berkaki, setiap adegan disusun dengan kehati-hatian dan imajinasi yang kuat. Deskripsi tempat, suara, bau, hingga nuansa batin para tokohnya dibuat hidup dan berlapis. Tidak ada elemen yang hadir secara kebetulan—semuanya terhubung satu sama lain dalam jalinan cerita.

Elemen mistis yang disisipkan dalam cerita ini tidak mendominasi, tetapi cukup memberikan lapisan tambahan pada konflik utama. Ketegangan dibangun melalui suasana desa yang sepi, interaksi antar tokoh yang ganjil, dan simbol-simbol yang mengarah pada sisi spiritualitas maupun trauma masa lalu.

Kepiawaian Menjaga Kejutan hingga Babak Terakhir

Chandra dikenal sebagai penulis yang pandai menjaga twist dan kejutan. Hal ini kembali dibuktikan dalam Batu Berkaki. Cerita yang tampak seperti sekadar pembunuhan biasa ternyata menyimpan banyak lapisan persoalan, mulai dari isu keluarga, dendam masa lalu, hingga eksplorasi tentang seni dan kekuasaan.

Pembaca akan diajak menelusuri jalan cerita yang penuh jebakan psikologis. Setiap karakter memiliki potensi menjadi pelaku, dan setiap bab menghadirkan pertanyaan baru. Hal ini membuat Batu Berkaki menjadi bacaan yang sulit ditinggalkan sebelum mencapai halaman terakhir.

Warisan Sastra yang Meninggalkan Jejak dalam Dunia Literasi

Dengan kepergian Chandra Bientang, dunia sastra Indonesia kehilangan salah satu penulis muda berbakat yang sedang berada di puncak kreativitasnya. Meskipun usianya belum terlalu tua, karya-karyanya telah memberikan warna tersendiri dalam lanskap fiksi Indonesia, terutama dalam genre thriller dan urban mystery.

Warisan terakhirnya dalam bentuk Batu Berkaki bukan hanya penutup, tetapi juga pengingat akan dedikasinya dalam dunia kepenulisan. Novel ini akan selalu dikenang bukan hanya karena kualitasnya, tetapi juga karena momentum emosional yang menyertainya—sebuah perpisahan tak terucap dari seorang penulis kepada pembaca-pembacanya.

Penutup: Batu Berkaki dan Jejak yang Ditinggalkan

Chandra Bientang telah pergi, namun Batu Berkaki tetap berdiri sebagai batu penanda dalam sejarah literasi Indonesia. Frasa “batu berkaki” kini tidak hanya menjadi simbol dalam cerita, tetapi juga metafora dari perjalanan seorang penulis yang terus melangkah, bahkan setelah kepergiannya. Jejaknya masih akan menuntun pembaca—lewat halaman demi halaman yang ia tinggalkan sebagai hadiah terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *